Pagi itu 8 Februari 2016 ,lokasi wisata Kawah Putih di
Ciwidey Kabupaten Bandung sedang ramai pengunjung. Tentu saja lokasi ini selalu
ramai oleh wisatawan tetapi dikarenakan bertepatan dengan hari raya Imlek dan
libur panjang, orang-orang seakan tak berhenti datang dan pergi dari tempat
ini, walaupun gerimis mengundang.
Tempat wisata adalah tempat yang sangat tepat untuk
mengabadikan momeni di tempat tersebut dan membagikannya kepada kerabat, tak
terkecuali Kawah Putih. Wisatawan pun dengan muka yang cerah berlomba lomba
mengabadikan momen tersebut biarpun suasananya dingin menusuk sumsum.
Berdiri diantara orang orang yang saling memotret, seorang
fotografer berusia 23 tahun berteriak memanggil wisatawan untuk menggunakan
jasanya. Jasa fotografi cepat dalam 1 menit bisa langsung mendapatkan hasil
cetak. Tak banyak dia dapat meraup untung dari profesi ini, sehari rata rata
dia mendapatkan uang sebesar 30 ribu rupiah dan harus bersaing dengan
fotografer yang lain yang saat itu berjumlah belasan orang. Mereka mematok
harga 20 ribu rupiah untuk jika memakai kamera DSLR dan 10 ribu rupiah untuk
penggunaan kamera pocket
.
Seram jika dipikirkan bagaimana sebuah kemajuan teknologi
dapat menghancurkan sumber penghasilan seseorang. Untuk kasus ini foto siap
cetak tergeser oleh perkembangan telepon seluler dan media sosial yang
mengakibatkan wisatawan tidak memakai jasa mereka lagi.
Bagaikan dua mata pedang. Perkembangan teknologi membawa
efek positif dan negatif tergantung prespektif kita masing masing. Tidak hanya
teknologi, segala macam perubahan selalu membawa 2 efek yang berlawanan.
Rencana pelebaran Jln. Surapati yang akan membabat habis usaha konveksi ,
kondisi MEA yang masih simpang siur, serangan LGBT, dan lain-lain. Ini semua
membuatku berpikir, haruskah kita berubah ? “Jangan takut untuk berubah, kau
mungkin akan kehilangan kenyamanan mu, tapi kau akan mendapatkan sesuatu yang
lebih,” Anonim. Yang bisa kulakukan hanya bersiap diri saja, dasarnya hidup di
dunia adalah hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang.
Sambil merenung dan mendengarkan cerita akhirnya fotograger muda ini
akhirnya berpendapat, “Bagus a
tapi pendapatannya sedikit berkurang, gimana
milik rizki kita aja , ” tutur
pemuda itu sambil memberikan hasil cetakan foto dan menyerahkan kembalian.
IMF
0 comments:
Post a Comment