Perubahan

February 22, 2016
Pagi itu 8 Februari 2016 ,lokasi wisata Kawah Putih di Ciwidey Kabupaten Bandung sedang ramai pengunjung. Tentu saja lokasi ini selalu ramai oleh wisatawan tetapi dikarenakan bertepatan dengan hari raya Imlek dan libur panjang, orang-orang seakan tak berhenti datang dan pergi dari tempat ini, walaupun gerimis mengundang.

Tempat wisata adalah tempat yang sangat tepat untuk mengabadikan momeni di tempat tersebut dan membagikannya kepada kerabat, tak terkecuali Kawah Putih. Wisatawan pun dengan muka yang cerah berlomba lomba mengabadikan momen tersebut biarpun suasananya dingin menusuk sumsum.
Berdiri diantara orang orang yang saling memotret, seorang fotografer berusia 23 tahun berteriak memanggil wisatawan untuk menggunakan jasanya. Jasa fotografi cepat dalam 1 menit bisa langsung mendapatkan hasil cetak. Tak banyak dia dapat meraup untung dari profesi ini, sehari rata rata dia mendapatkan uang sebesar 30 ribu rupiah dan harus bersaing dengan fotografer yang lain yang saat itu berjumlah belasan orang. Mereka mematok harga 20 ribu rupiah untuk jika memakai kamera DSLR dan 10 ribu rupiah untuk penggunaan kamera pocket
.
Seram jika dipikirkan bagaimana sebuah kemajuan teknologi dapat menghancurkan sumber penghasilan seseorang. Untuk kasus ini foto siap cetak tergeser oleh perkembangan telepon seluler dan media sosial yang mengakibatkan wisatawan tidak memakai jasa mereka lagi.

Bagaikan dua mata pedang. Perkembangan teknologi membawa efek positif dan negatif tergantung prespektif kita masing masing. Tidak hanya teknologi, segala macam perubahan selalu membawa 2 efek yang berlawanan. Rencana pelebaran Jln. Surapati yang akan membabat habis usaha konveksi , kondisi MEA yang masih simpang siur, serangan LGBT, dan lain-lain. Ini semua membuatku berpikir, haruskah kita berubah ? “Jangan takut untuk berubah, kau mungkin akan kehilangan kenyamanan mu, tapi kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih,” Anonim. Yang bisa kulakukan hanya bersiap diri saja, dasarnya hidup di dunia adalah hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang.

Sambil merenung dan mendengarkan cerita akhirnya fotograger muda ini akhirnya berpendapat, “Bagus a tapi pendapatannya sedikit berkurang, gimana milik rizki kita aja , ” tutur pemuda itu sambil memberikan hasil cetakan foto dan menyerahkan kembalian.


IMF

0 comments:

Post a Comment