Tahun ini 2015 adalah tahun gonjang-ganjing bagi negara kita
tercinta Indonesia. Mulai dari ambruknya tatanan ekonomi Indonesia, ancaman
dari permasalahan yang akan ditimbulkan MEA(Masyarakat Ekonomi Asean),
depresiasi rupiah, harga-harga bahan pokok yang kian hari kian melambung
tinggi, dan ditambah dengan bencana kekeringan yang merupakan dampak dari badai
el-nino.
Seakan belum cukup parah keadaan ini kembali dibakar oleh
oleh media-media yang selalu memblow up berita berita yang sifatnya ada di permukaan,
menonjolkan drama, subjektif, dan tidak melihat bagaimana kegelisahan rakyat
yang mulai merasa Indoensia ini kacau balau.
Mahasiswa yang mengklaim dirinya sendiri Agent of Change pun belum memberikan
dampak yang signifikan. Teriakan aksi ada di mana mana hanya saja kurang greget
dari semua aspek. Massa yang kurang, kajian strategis yang lesu, aksi sebagai
ajang latihan berorasi, dan yang lebih parah aksi yang selama ini saya lihat
hanya sampai pada tuntutan. Kajian strategis yang digadang oleh mahasiswa
outputnya harus sudah solusi dan bukan lagi sebuah tuntutan. Masyarakat biasa
pun menuntut, anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya pun menuntut, apa
yang membedakan mahasiswa dari mereka ? Solusi !
Saat pemerintah sudah deadlock, saat pemerintah sudah tidak
dipercaya lagi oleh rakyat, saat media sudah menjadi kendaraan politik,
diharapkan mahasiswa yang mengklaim dirinya sendiri sebagai Agent of Change minimal memberikan
solusi di aksi-aksi mereka.