Krisis 3.0 dan Mahasiswa didalamnya

September 25, 2015


Tahun ini 2015 adalah tahun gonjang-ganjing bagi negara kita tercinta Indonesia. Mulai dari ambruknya tatanan ekonomi Indonesia, ancaman dari permasalahan yang akan ditimbulkan MEA(Masyarakat Ekonomi Asean), depresiasi rupiah, harga-harga bahan pokok yang kian hari kian melambung tinggi, dan ditambah dengan bencana kekeringan yang merupakan dampak dari badai el-nino.

Seakan belum cukup parah keadaan ini kembali dibakar oleh oleh media-media yang selalu memblow up berita berita yang sifatnya ada di permukaan, menonjolkan drama, subjektif, dan tidak melihat bagaimana kegelisahan rakyat yang mulai merasa Indoensia ini kacau balau.
Mahasiswa yang mengklaim dirinya sendiri Agent of Change pun belum memberikan dampak yang signifikan. Teriakan aksi ada di mana mana hanya saja kurang greget dari semua aspek. Massa yang kurang, kajian strategis yang lesu, aksi sebagai ajang latihan berorasi, dan yang lebih parah aksi yang selama ini saya lihat hanya sampai pada tuntutan. Kajian strategis yang digadang oleh mahasiswa outputnya harus sudah solusi dan bukan lagi sebuah tuntutan. Masyarakat biasa pun menuntut, anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya pun menuntut, apa yang membedakan mahasiswa dari mereka ? Solusi !

Saat pemerintah sudah deadlock, saat pemerintah sudah tidak dipercaya lagi oleh rakyat, saat media sudah menjadi kendaraan politik, diharapkan mahasiswa yang mengklaim dirinya sendiri sebagai Agent of Change minimal memberikan solusi di aksi-aksi mereka.

0 comments:

Post a Comment